Smart Parenting, Seimbang Antara Teguran dan Pujian

???????????????????????????????Suatu hari, sepulang sekolah anak perempuan remaja izin pada ibunya hendak pergi menghadiri perayaan ulang tahun temannya sekolah.
“Ma, izinin ya Ma. Ini teman dekat saya Ma,” mintanya merajuk.

“Ulang tahun aja kok, sayang. Gak usah aja lah…” jawab si ibu.
“Tapi, ini temen yang sangat dekat Ma.” mintanya lagi.
“Yaudah, deh. Kamu ganti baju sana. Tapi, pulangnya jangan telat ya.”

Si anak ke kamarnya. Sejurus keluar kamar hendak pamitan pada ibunya.
Bajunya rapi, berjilbab dan pakaian syar’i.
“Ma, saya berangkat dulu ya…” pamitnya.

Dalam hati, si ibu bergumam,
“Duh, anakku cantiknya. Pakaiannya juga rapi, Mama senang.”

Si anak berangkat.

Minggu berikutnya, si anak minta izin lagi untuk keperluan yang sama. Mamanya menolak. “Kok tiap minggu izin keluar si sayang?”
“Kali ini temenku yang lebih dekat, Ma. Boleh ya Ma.” merajuk.
“Iya, deh… Ini terakhir ya…” kata si Mama.

Si anak ke kamar. Ganti baju. Sejurus ia keluar hendak pamitan.
Namun, si ibu mendadak wajahnya memerah. Ia marah besar demi melihat pakaian yang dikenakan remaja putrinya.
“Nak, kamu itu. Tidak sopan sekali. Masak pakaian SD masih juga dipakai!?”
Bentak si ibu melihat anaknya yang memakai kaos dan celana yang serba ketat.

“Mama nich, kemarin aja pas saya pakaian longgar gak ngomong apa-apa. Sekarang saya pakaian begini marah-marah.” protes si anak.

————-

Itulah kesalahan yang seringkali dilakukan orangtua. Tidak ada keseimbangan dalam antara pujian dan teguran. Di minggu pertama saat melihat anaknya berpakaian rapi dan syar’i, orangtua menganggap itu wajar “ah, biasa.” Tetapi, saat anak memakai pakaian yang berbeda di minggu berikutnya ibu langsung marah-marah.

Mestinya, orangtua punya keseimbangan dalam memberikan pujian dan teguran. Mungkin berbuat baik itu kita anggap biasa, tapi kita tidak pernah tahu bagi si anak. Bisa jadi perbuatan luar biasa baginya. Kita tak pernah tahu; mungkin di minggu pertama saat berpakaian rapi dan syar’i, ia telah mengalahkan gejolak batinnya dan pengaruh teman-temannya demi cintanya dan kasih sayang pada orangtua. Namun, ternyata ia tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orangtuanya atas usaha keras tersebut.

Anak pun ‘berulah’ di minggu berikutnya. Dampaknya, sangat berbahaya. Anak bisa jadi akan lebih percaya pada teman-temannya daripada orangtuanya.
Maukah kita menjadi orangtua seperti itu?

————-

Itulah, salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan parenting “Seni Berkomunikasi dengan Anak” yang diselenggarakan Riung Center di SDIT Mutiara Hati, Tambun Bekasi pada hari Sabtu (01/06/2013). Seminar parenting tersebut dihadiri sekitar 70 peserta dari walimurid sekolah dan sebagian guru. Bertindak sebagai narasumber adalah trainer Griya Parenting: Ustadz Khoirun Nasik dan Ustadz Farda. [KHO]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s