Tidak Ada Hukuman Bagi Siswa Terlambat dan Tak Berseragam

Oleh: Abdul Ghofur

Tepat pukul 06.45 saya melintas di depan sebuah SMPN di dekat rumah saya. Ada sekelompok siswa dan beberapa guru berada di luar pagar gerbang utama sekolah. Kepanasan, dilihat orang yang melintas, malu, penat, bête dan lain-lain mungkin perasaan mereka. Saya sempatkan untuk turun dari kendaraan. Mencoba mendekati salah satu siswa yang berdiri agak jauh dari teman-temannya.

“Mengapa Mas, kok di luar?”
“Gak boleh masuk, Pak” nadanya kesal dan jengkel.
“Kenapa, terlambat?” tanya saya mempertegas situasi.
“Gara-gara adik sih, bangunnya lama jadinya gini aku terlambat.”

Saya lalu mengajaknya berbincang tentang beberapa hal lainnya. Sampai ada aba-aba dari seorang guru yang juga terlambat, “Adi, ayo masuk!”

Dan, siswa itu yang belakangan saya ketahui namanya Adi hilang dari pandangan saya bersama kerumunan siswa lainnya.

Saya tidak tahu bagaimana nasib Adi ketika masuk ke dalam gedung sekolah. Sekadar menebak, Adi dan kawan-kawannya akan mendapatkan hukuman dari guru mereka. Saya berusaha mengintip melalui celah-celah pagar sekolah itu. Ternyata betul, mereka dibariskan di lapangan. Di hadapan mereka, ada seorang guru yang mungkin “kebetulan” membawa sebatang kayu kecil. Panjangnya sekitar 60 cm dan diacung-acungkan pada anak-anak yang terlambat tadi. Sambil tersenyum, saya meninggalkan sekolah tersebut karena kuatir terlambat juga saya masuk kantor.

Di tengah perjalanan saya berusaha membayangkan situasi Adi ketika di rumah sebelum menuju sekolah. Tentu saja dengan analogi situasi yang hampir serupa dialami anak-anak saya. Ribut dengan adiknya, cenderung marah jika disuruh-suruh ibunya, terus membentak-bentak adiknya yang kian melambat, dan situasi-situasi lain seperti yang sering saya alami di rumah bersama anak-anak.

Sudah jatuh tertimpa tangga, guman saya. Maksud saya, Adi sudah mengalami masalah ketika hendak berangkat sekolah dan setibanya di sekolah kembali menemui masalah baru; menerima hukuman. Situasi awal seperti ini sungguh akan mengakibatkan daya konsentrasi, kecepatan dan ketepatan berpikir, serta kenyamanan belajar sulit ditemukan. Saya khawatir anak seperti itu akan mengalami GPP (Gangguan Pemusatan Perhatian) atau dalam istilah medis ADD (Attention Deficit Disorder). Dampak berikutnya adalah apapun yang diajarkan oleh guru tidak akan diterima secara maksimal. GPP itu mungkin semakin meningkat jika guru-gurunya tidak mampu memberikan pembelajaran yang menyenangkan yang membuat anak lupa dengan kejadian sebelumnya.

Betapa indahnya jika paradigma hukuman itu dibalik dengan paradigma “perlindungan”. Bayangkan saja, bila Adi justru disambut oleh seorang guru yang dari jauh sudah menebarkan senyum bersahabat, mendekatinya, lalu bertanya,
“Kok suntuk, kenapa?”
“Gak apa-apa kok.”
“Ayo, Bapak antar ke kelas kamu,” kata sang guru sambil mengantar Adi. Guru tersebut merangkul dengan penuh kasih sayang dan bertanya, “Ada masalah apa di rumah?”

Dengan sikap bersahabat seperti itu, saya yakin Adi akan mau menjelaskan masalahnya. Selanjutnya, sang guru mencoba memberikan solusi dan nasihat agar tidak mudah marah dan jengkel pada adiknya.

Ada beberapa catatan yang dapat dilihat dari adegan di atas.
1. Tetap senyum
2. Tidak bertanya mengapa terlambat
3. Solutif
4. Melindungi
5. Menyayangi

Jika ini dilakukan dengan tulus oleh sang guru, maka yang tertanam di benak Adi adalah “you are my hero today” dan Adi benar-benar merasa lega.

Saat menjadi pembicara dalam beberapa pelatihan dan seminar, saya kerap membicarakan hal ini. Jawaban spontan dari guru-guru peserta itu tak jauh dari hal-hal ini: “Besok semua siswa akan terlambat” “Dia pasti ngelunjak (Jawa)” dan komentar-komentar lain yang membuat saya tersenyum.

Saya teringat dengan ucapan Kak Seto dalam sebuah acara di Stasiun TV. Generasi yang baik akan muncul dari keluarga yang baik dan keluarga yang baik itu adalah keluarga yang penuh kasih sayang dan perhatian pada seluruh anaknya, tegas Kak Seto.

Maka, jawaban saya ketika mendapat bantahan dari guru peserta seminar/pelatihan itu adalah: “Tentu saja akan menjadi boomerang dan anak pasti ngelonjak jika yang kita lakukan pada mereka tidak sepenuh hati, tidak tulus, dan tidak dibarengi dengan kasih sayang.”

Adi mungkin akan terlambat lagi, tetapi jika semua guru di sekolah itu melakukan hal yang sama dengan guru yang saya ceritakan di atas, maka yang terjadi anak akan lebih nyaman dengan gurunya bahkan dibanding dengan orangtuanya sendiri.

Hal serupa harus dilakukan semua guru terhadap anak yang tidak memakai seragam, sepatu lusuh, dan pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Lantas bagaimana dengan teori reward and punishment?
Reward dan punishment memang harus ada, tetapi untuk punishment mari kita terjemahkan bukan sebagai hukuman, tetapi konsekwensi logis. Artinya, anak-anak akan menjalani sebuah konsekwensi dari inkonsistennya sendiri. Tentu saja dengan tetap mengedepankan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Tidak mudah memang, tapi tidak salah jika selalu ada upaya lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s