Sekolah di Indonesia Tidak Perlu Ada

Oleh: Abdul Ghofur*

Tahun baru 2013 baru bergeser 8 hari ketika saya dikejutkan oleh sebuah berita dari stasiun radio.Berita mengejutkan itu saya dengardi mobil saat perjalanan menuju kantor.Mahkamah Konstitusi (MK)memutuskan;Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) danSekolah bertaraf Internasional (SBI) harus dibubarkan.

Sejak UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas ditetapkan,di dalamnya memuat Pasal 50 ayat (3) yang mengatur adanya RSBI/SBI, dan kemudian digulirkan pada 2005, saya sudah suudhonini hanyalah euforiapemerintah dalam menyikapi maraknya sistem pendidikan imporyang kian berkembang pesat di Indonesia.Masalah-masalah yang terjadi karena adanya RSBI/SBI,insya Allahakan saya tuliskan di lain waktu.

Mungkin judul yang saya buat terlalu berlebihan. Seolah-olah mengesampingkan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan.Tetapi, mari kita lihat salah satu fakta betapa bingungnya pengambil kebijakan di negeri kita ini demi menciptakan pendidikan yang bermutu bagi anak bangsa ini.

Konsekuensinya, saya harus menjawab mengapa sekolah di Indonesia tidak perlu ada.Mari kita lihat faktanya.Untuk dapat melanjutkan ke perguruan tinggi favorit, anak yang hanya mengandalkan pendidikan di bangku sekolah memiliki probabilityyang sangat jauh dari angka pasti.

Siswa yang hanya mengandalkan bangku sekolah cenderung kesulitan mencapai nilai UN di atas rata-rata pagu penerimaan mahasiswa baru di PT favorit.Siswa tersebut juga kesulitan mengerjakan soal-soal seleksi—istilah sekarang SNPTN (dulu SIPENMARU).Rata-rata sekolahpun tidak berani menjamin seluruh siswanya di kelas akhir (yang hanya mengandalkan pelajaran di bangku sekolah) pasti mampu mengerjakan soal-soal itu.Walaupun sudah banyak kegiatan ekstra yang diberikan seperti bimbingan belajar, tryout, dan lain-lain.

Fakta yang tidak mungkin ditolak, keberhasilan pendidikan kita saat ini hanya diukur dari perolehan hasil UNdan nilai SNPTN. Siswa yang nilai UN-nya tinggi, dianggap berhasil dalam pendidikan. Sebaliknya, siswa yang jeblok nilai UN-nya, dianggap gagal. Yang menarik,janji “keberhasilan pendidikan” itu justru didengungkan oleh berbagai lembaga bimbingan belajar. Itu pun cukup dengan mengikuti les beberapa minggu atau bulan saja. Bandingkan dengan bangku sekolah yang butuh beberapa tahun! Dibanyak banner dan spanduk yang saya baca di lembaga bimbingan belajar, terpampang jelas kalimat “DIJAMIN LULUS, JIKA TIDAK LULUS UANG KEMBALI”. Luar biasa!

Fakta tersebut benar-benar terjadi di LBB seluruh kota.Bahkan menjamur hingga tingkat kota kecamatan. Mengapa ini terjadi?Karena, memang LBB tampil membawa kesan solutif terhadap problematika peserta didik untuk menyelesaikan masalah krusial mereka. Pertanyaannya, mengapa itu tidak bisa dilakukan oleh sekolah?

Sejauh pengamatan penulis, dari sekian banyak sekolah di Jawa Timur, hanya beberapa sekolah saja yang sanggup menjamin siswanya dapat meraih prestasi tinggi, tanpa bimbingan belajar di luar bangku sekolah. Yang lebih ironi,banyak sekolah yang bekerja sama dengan LBB untuk membimbing siswanya mencapai prestasi yang diinginkan—termasuk sekolah saya di tahun 2002. Lantas, apa peran guru di sekolah itu?!

Kesimpulannya, jika kualitas pendidikan diukur dengan hasil UAN dan seberapa besar siswanya diterima di PTUN, maka hendaknya pendidikan ini diserahkan pada LBB saja tanpa harus ada sekolah.

Pertanyaan berikutnya adalah; jika fakta menunjukkan demikian adanya, lalu apa yang harus dilakukan oleh pihak sekolah (baca: pemerintah)?
Dalam beberapa forum diskusi dan seminar yang saya ikuti, pertanyaan itu kerap kali muncul.Banyak jawaban dari para ahli yang menjadi pembicara.Jawaban mereka beragam.Tergantung perspektif tiap-tiap ahli. Intinya, bimbingan belajar memang perlu, tetapi bukan sebuah kewajiban.Tugas pembimbing di LBB adalah untuk mengasah kemampuan dan keterampilan mengerjakan soal.Orientasinyapun terbatas pada hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas. Sekolah harus menjadi agen perubahan dalam aspek moral, menguatkan karakter yang kokoh yang akan digunakan oleh anak saat berkiprah di masyarakat kelak.

Sekolah hendaknya menguatkan visi dan misinya melalui indikator yang jelas dan terukur.Dari visi dan misi itulah, sekolah menyusun program-programnya—baik kurikuler maupun ekstra kurikuler.Tentu saja, setiap program akan mengacu pada indikator visi dan misi. Contoh, jika salah satu visi sekolah adalah bertakwa, maka salah satu indikatornya adalah selalu menjalankan shalat lima waktu tepat pada waktunya dengan baik dan benar sesuai dengan syariat. Dari kalimat indikator tersebut dapat dibuat beberapa pertanyaan yang akan dijadikan muara penyusunan program:

1. Bagaimana sekolah mengajarkan shalat pada seluruh siswa; apakah hanya berorientasi pada pemahanam teks atau sampai bahwa shalat itu gerakan dan bacaannya harus benar.
2. Bagaimana sekolah menanamkan pada diri siswa bahwa shalat lima waktu itu tidak sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan seorang hamba untuk beraudiensi dengan Rabb-nya.
3. Bagaimana sekolah melakukan kontrol sebagai langkah untuk melakukan reward dan punishment dalam kegiatan sadar shalat ini.
4. Bagaimana sekolah menjalin hubungan yang sinergis dengan orang tua untuk melakukan pendidikan bersama-sama khususnya dalam hal shalat lima waktu.
5. Dan banyak pertanyaan lain yang dapat dikembangkan.

Sehingga program-program yang ditetapkan sekolah benar-benar merupakan turunan dari visi dan misi sekolah.Istilah orang Jawa; visi misi dan programnya benar-benar “nyambung”.
Penguatan yang lain adalah melalui gerakan kampanye pembentukan karakter oleh seluruh komunitas sekolah. Insya Allah dalam masalah ini akan saya uraikan pada tulisan lainnya (baca: Mudahnya Menciptakan Sekolah yang Memikat).

*) Abdul Ghofur, M.Pd. :
Wakil Direktur Ummi Foundation,
Kabid Dikdasmen LPI Hidayatullah Semarang

2 thoughts on “Sekolah di Indonesia Tidak Perlu Ada

  1. karena mempunya pendapat yang sama akhirnya saya search di google dan menemukan artikel ini, bagus pak ulasannya menurut saya juga robohkan saja sekolah-sekolah hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s