Begitu Mudahnya Menciptakan Sekolah yang Memikat

Oleh : Abdul Ghofur*

Malam itu, usai shalat Isya’ telepon saya berdering. Rupanya dari seorang ibu yang tidak saya kenal.Sambil terisak-isak ia menceritakan identitasnya. Ternyata, dari seorang ibu wali murid MadrasahIbtidaíyah (MI) yang kebetulan saya pimpin saat itu. Ingatan saya langsung tertuju pada seorang anak didik di sekolah itu.

“Ada apa dengan Ananda?’’ tanya saya.
“Tidak ada apa-apa, Ustadz. Ananda sehat dan sekarang baru tidur,”jawabnya. Tangisnya mulai mereda.
“Lantas kenapa Ibu menangis?”
“Terima kasih Ustad.” Ucapannya tertahan.Kali ini tangisnya malah semakin keras.Dahi saya berkerut. Ada apa sebenarnya dengan si ibu.

Singkat cerita, si ibu merasa dibukakan hidayah oleh Allah melalui anaknya. Dalam dua minggu terakhir ini anaknya selalu mengajak ibunya untuk berwudlu sebelum tidur.Bahkan, menurut beliauanaknya mengeluarkan “kata-kata petuah” yang sangat indah didengar. Si ibu yang biasanya jarang shalat, jarang menyentuh—apalagi—membaca Al Qurán.Tidak pernah berwudlu sebelum tidur apalagi shalat malam, oleh Allah dibukakan pintu hidayah melalui seorang anak yang baru duduk di kelas III MI.

Haru, bangga dan bahagia campur aduk dalam benak saya.Tak terasa saya ikut menitikkan air mata. Sebagai seorang guru, saya merasa telah menanamkan jariyah yang tak bakal habis pahalanya.Bisa jadi, si anak juga mengajarkan hal yang sama pada saudara-saudaranya. Bahkan,kelak pada anak-anaknya dan keluarga lainnya.

Di sisi lain, sebagai seorang kepala sekolah saya merasa ibu ini akan menjadi promotor gratis untuk penerimaan siswa baru yang dibuka dua pekan mendatang. Kisah yang dialaminya mungkin akan diceritakannya pada pada ibu-ibu lainnya di komunitasnya. Kepuasannya menyekolahkan anak di MI yang saya pimpin waktu itupun menjadi “gethok tular” di masyarakat sekitar sekolah.

Hasilnya, apa yang saya inginkan benar-benar dikabulkan oleh Allah Swt. Saat PSB dibuka awal Januari 2010, dalam dua hari quota sudah hampir penuh.Padahal, biasanya PSB di MI yang saya pimpin harus menunggu limpahan dari SD Negeri di sekitar.
Waktu orientasi wali murid, kami mengedarkan angket untuk mengetahui alasan mengapa memilih MI ini. Di luar dugaan, dari 99 wali murid terdapat 87,6 % jawaban mengerucut pada 3 hal;pertama, kemampuan/kesadaran shalat;kedua, kemampuan “ngaji”(baca Al-Qurán) dan;ketiga, perilaku yang baik (berakhlak mulia).

Tahun sebelumnya (2009), MI yang saya pimpin ini bukanlah MI terbaik dalam perolehan nilai Ujian Nasional.Bahkan,dalam peringkat pencapaian nilai Ujian Nasional di tingkat kecamatan—kalau tidak salah data—MI itu menempati urutan nomor dua dari bawah.
Di beberapa sekolah lain saya menemukan fenomena sebaliknya.Sekolah berlomba-lomba meraih predikat terbaik dalam UN dengan berbagai cara, bahkan—astaghfirullah—menghalalkan segala cara.Alasanya demi menarik minat masyarakat. Saya juga menemukan di beberapa sekolah, terpampang spanduk promonya dengan kalimat penarik seperti: “Bebas uang gedung”, “Bebas SPP”, “Beasiswa”.Ada pula yang mmasang tulisan “Gratis tas, seragam dan sepatu”.Ironisnya, dari segi kuantitas sekolah-sekolah tersebut tidak menunjukkan perkembangan berarti.

Sentuhan pada aspek moral.Itulah sebenarnya kata kunci mengapa sebuah sekolah MI bisa menjadi pilihan bagi kalangan masyarakat kota saat itu.Bahkan sampai sekarang. Kompetisi menarik murid sebanyak-banyaknya bagi sekolah negeri maupun swasta,rupanya bukan lagi hal sulit dilakukan. Tentu saja jika menggunakan pendekatan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Aspek moral memang merupakan komponen terpenting dalam pendidikan.Dalam sebuah seminar, Rektor UNY, Prof Dr. Rahmat Wahab, MA, M.Pd, mengatakan bahwa:“Pendidikan merupakan strategi untuk mempersiapkan generasi masa depan agar mampu menghadapi setiap tantangan yang muncul di era global. Pendidikan harus mempertimbangkan aspek moral karena moral merupakan elemen penting dalam kehidupan.”

Secara garis besar dapat saya sampaikan di sini bahwa MI tersebut dapat menjadi pilihan masyarakat karena mengedepankan 3 hal;
1. Sistem pendidikan dan pengajaran Al-Qurán yang baik
2. Kampanye dan praktik kehidupan agama yang terstruktur dan terkontrol
3. Kampanye dan praktik kehidupan moral yang terstruktur dan terkontrol pula.

Ketiga program ini dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah quality assurance (jaminan kualitas) pendidikan di MI. Artinya,sekolah menjamin bahwa saat lulus nanti, seluruh siswa minimal memiliki 3 identitas; yaitu (1) tartil membaca Al-Qurán, (2) gemar dan sadar ibadah, dan (3) berkepribadian baik. Dan sesungguhnya yang terjadi adalah penanaman karakter pada diri siswa yang benar-benar tertanam karena akan terjadi sebuah habit atau pembiasaan diri yang bukan hanya ketika siswa berada di sekolah, tetapi akan dibawa siswa sampai di rumah.

Teknik yang digunakan cukup sederhana.Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.Energi yang dibutuhkan juga relatif kecil.Namun, hasilnya dapat menjadi gelombang yang dahsyat. Hal terpenting dalam teknik pelaksanaannya adalah komitmen guru dan pegawai untuk menjalankan program bersama-sama disertai perilaku uswatun hasanah (menjadi contoh yang baik).

Contohnya, sebagaimana yang saya ceritakan di atas, yaitu tentang penguatan perilaku berwudlu sebelum tidur. Setelah disepakati kampanye berwudlu sebelum tidur, maka semua guru harus menyuarakan hal yang sama pada saat break kegiatan belajar mengajar dengan batasan waktu maksimal 20 detik.Karyawan yang berinteraksi langsung dengan siswa juga menyuarakan hal yang sama yaitu berwudlu sebelum tidur.

Strategi yang digunakan adalah menyampaikan motivasi, bercerita (walaupun fiksi), pemaparan fenomena dan lain-lain.Kemasannyapun harus dibuat sedemikian sehingga siswa senang mendengarkan. Hal ini terus-menerus dilakukan selama minimal 3 hari dan maksimal 2 minggu. Manajemen sekolah dalam hal ini menggunakan fungsi kontrolnya untuk memastikan bahwa seluruh guru dan karyawan menyuarakan hal yang sama.

Dapat Saudara bayangkan; jika seluruh guru (apapun bidang studinya) pada jam pertama menyuarakan berwudlu sebelum tidur.Lalu guru jam kedua, jam ketiga dan seterusnya juga menyuarakan hal yang sama.Ketemu cleaning servicepun ikut menyerukan wudlu sebelum tidur.Terakhir, sebelum pulang securitypun tak kalah menyuarakan berwudlu sebelum tidur. Esok harinya disambut oleh kepala sekolah dan semua guru serta ketemu security dan cleaning service.Lagi-lagi semuanya menanyakan apakah semalam sudah berwudlu sebelum tidur. Demikian dilakukan secara berulang-ulang tanpa ada hukuman dan sikap marah.Yang ada hanyalah motivasi dan penghargaan. Indah, bukan?

Satu minggu sebelum kampanye dimulai, kepala sekolah terlebih dulu memberikan pemahaman terkait landasan, ketentuan, keutamaan-keutamaan dan beberapa peristiwa atau cerita-cerita yang berhubungan dengan kegitan berwudlu sebelum tidur.Setelah itu, kepala sekolah mengajak seluruh guru dan seluruh karyawan melakukan wudlu sebelum tidur.Kegiatan itu dikawal dengan kontrol yang kontinue selama satu minggu.
Berminat mencoba?

*Abdul Ghofur, M.Pd.
Wakil Direktur Ummi Foundation Surabaya
Ka. Bid. Dikdasmen LPI Hidayatullah Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s