Niscaya, Product Knowlede Bagi Pustakawan  

Librarian reshelving a bookSebuah penelitian menyebutkan, hanya 31% pengunjung minimarket (supermarket) yang membawa daftar belanja. Seperti itulah, rata-rata pengunjung perpustakaan. Mayoritas dari mereka masuk ke perpustakaan tanpa tujuan hendak meminjam buku dengan judul apa, tema apa, bahkan tak menentukan genre apa?

Seperti itu pula, anak-anak. Ini saya simpulkan dari pengalaman setahun yang lalu. Saat mengelola pusling milik PT Riung Mitra Lestari yang bekerjasama dengan Yayasan Alam Tata Amaliah (Riung Center). Kebetulan, sasaran perpusling ini adalah anak-anak sekolah dasar.

Hampir semua anak yang datang ke mobil pusling kami, kebingungan hendak meminjam buku apa. Ada satu dua yang meminjam buku bekas pinjaman temannya. Referensi dari temannya menjadi acuan utama. Kebanyakan yang lainnya, tak punya referensi apapun. Terkadang saya perhatikan mereka. Dari gayanya, tampak memilah-memilih buku. Membuka-buka gambar di dalamnya. Sejurus, ganti membuka-buka buku lainnya. Begitu seterusnya, hingga akhirnya menyerah, “Pinjam buku ini sajalah…” atau masih ragu “Pinjam buku yang mana, ya…?

Terkadang, saya langsung turun tangan.

Buku ini lho, Dik. Bagus. Ceritanya seru!” kata saya.

“Yaudah, pinjam ini saja, Om…” jawabnya enteng.

Untuk itu, saya kira ada satu kewajiban yang mesti menjadi aktivitas rutin para pustakawan. Para pejuang buku itu. Yakni mengetahui dengan baik produk yang ditawarkannya. Istilah marketingnya, harus mempunyai product knowledge yang mumpuni. Dengan demikian, ia mengetahui mana buku yang layak dibaca dan mana yang tak layak dibaca. Ia bisa memberi saran buku yang sesuai dengan tingkatan umur pengunjung perpustakaannya.

Saat mengelola perpusling itulah, saya lalu menargetkan untuk membaca 5 buku koleksi Perpusling Riung Center setiap hari. Buku-buku itu saya bawa pulang atau saya baca saat perjalanan mobil perpusling menuju lokasi. Tak heran, bacaan rutin saya adalah buku-buku cerita anak-anak. Kerap kali pula buku serial KKPK karya anak-anak terbitan Mizan.

Di era sekarang ini, menjadi pejuang buku (dalam wujud pustakawan) bukanlah pekerjaan ringan. Tugas sehari-hari tak lepas dari merapikan buku yang hampir selalu berantakan. Kerapkali pula harus memperbaiki buku yang lepas staplesnya, sobek, putus halamannya, dan lain sebagainya. Tak cukup  dengan tugas-tugas yang membuat muka cemberut, pustakawan juga diwajibkan menjadi pelayan yang baik bagi para pengunjungnya. Harus pula memutar otak bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat. Sungguh tak mudah.

Kalau Pak Bambang Trim, editor senior, menyebut dirinya komporis buku, saya menyebut para pustakawan itu sebagai pejuang buku.

Tritunggal, 5 Desember 2014

 

MS Khaled

Editor, Writer, Enterpreneur

Pendidikan Harusnya Menyenangkan

???????????????????????????????Saya mendengar banyak keluhan guru. Banyak situasi di sekolah yang memaksa guru berkeluh kesah. Mulai gaji yang rendah, potongan insentif sertifikasi, potongan insentif guru, potongan jam mengajar, hingga soal kebijakan manajemen yang sering berbeda dengan idealisme. Tiap sekolah punya karakter masalah yang berbeda—bergantung pada karakter pemimpinnya.

Pendidikan seharusnya menyenangkan. Baik untuk murid-muridnya, maupun untuk guru-gurunya. Pergi ke sekolah bukan lagi sebuah “ancaman”, tapi aktivitas yang paling dinanti. Kita merindukan murid-murid yang selalu semangat berangkat sekolah setiap pagi. Kita menantikan guru-guru yang mengayuh sepedanya (sepertinya tak ada lagi guru bersepeda) dengan antusias. Yang berdiri di depan kelas dengan senyum mengembang. Continue reading

Malala: Buku Dapat Mengalahkan Terorisme

MalalaBIRMINGHAM, KOMPAS.COM — Malala Yousafzai, gadis sekolah Pakistan yang ditembak tepat di kepalanya oleh militan Taliban karena mengampanyekan hak perempuan atas pendidikan, mengatakan, buku merupakan ”senjata untuk mengalahkan terorisme”. Dia mengemukakan hal itu, Selasa (3/9/2013), saat membuka sebuah perpustakaan baru di kota yang kini mengadopsinya di Inggris.

Gadis 16 tahun itu memberikan pidato sebelum meluncurkan sebuah plakat stainless steel untuk menandai pembukaan perpustakaan umum terbesar di Eropa, Library of Birmingham. Continue reading

Software Linspro, Keunggulan dan Cara Memperolehnya

98Linspro

BEKASI – Perpustakaan Keliling Riung Center berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi anggotanya. Salah satu sarana untuk memenuhi tujuan itu adalah penggunaan aplikasi yang tepat. Ada banyak pilihan software perpustakaan yang bisa kita pilih. Mulai dari yang paling sederhana hingga yang ribet operasionalnya. Mulai yang gratisan, hingga yang termahal. Semuanya bisa kita pilih sesuai dengan budget dan kebutuhan kita.
Riung Center memilih software Linspro sebagai aplikasi pengolahan dan peminjaman buku-buku di Perpustakaan Keliling Riung Center. Lisnpro dipilih karena cara mengoperasikannya yang simpel dan mudah. Bagi orang baru–yang paham internet–dalam waktu sekitar setengah sanpai satu jam dijamin bisa mengoperasikannya. Continue reading

Masuk Tahun Ketiga, Program Peningkatan Mutu Sekolah

???????????????????????????????BEKASI – Program peningkatan mutu SD/MI di sekitar Bekasi yang dilaksanakan oleh PT Riung Mitra Lestari lewat Riung Center memasuki tahun ketiga. Artinya, ini adalah tahun terakhir pelaksanaan program yang bekerja sama dengan Lembaga Ummi Foundation dan Lembaga UntukMu Indonesia. Pada tahun ketiga ini, tahapan program sudah memasuki tahap improvement (pengembangan). Continue reading

PT Riung Berikan Mudik Gratis Karyawan

mudik2BEKASI – Sebagai bentuk apresiasi kepada para karyawannya, PT Riung Mitra Lestari dan grup menyediakan fasilitas mudik gratis. Mudik gratis diberikan kepada seluruh karyawan beserta keluarganya. Rute perjalanan dimulai di kantor PT Riung Mitra Lestari Kota Harapan Indah Bekasi, dengan tujuan akhir Solo. Setiap karyawan diberikan hak untuk mendaftarkan maksimal 5 (lima) anggota keluarga.

“Keluarga yang didaftarkan harus anggota keluarga inti, seperti istri atau anak,” jelas Sutopo, koordinator perjalanan mudik karyawan Riung Group. Continue reading